Jumat, 05 Maret 2010

Ketua PBNU & KPU Dr. Abdul Aziz, MA raih gelar doktor dengan predikat Cumlaude

Tasyakuran kelulusan DR. Drs. Abdul Aziz,MA dirumahnya tadi malam di Kranji - Bekasi memang dihelat dan dikemas dengan sederhana secara seremonial dan jauh dari kesan glamour namun menjadi terasa istimewa karena banyaknya tokoh tokoh besar yang hadir dalam acara tersebut.
Diawali dengan pembacaan tahlil selepas solat 'isa oleh warga sekitar dan teman-teman aktifis PP Lakpesdam para tamu undangan satu persatu mulai berdatangan mulai dari Pak Fachry Alie (pengamat politik) teman kuliah S2 mas Aziz, Andi Nurpati dari KPU, KH Hafid Anshori (Ketua KPU), M. Nasihin Hasan dan Ibu (Ketua PP Lakpesdam) serta beberapa kolega dan teman dari keluarga Mas Abdul Aziz dan DR KH. Hasyim Muzadi (Ketua PBNU) juga hadir.
Judul disertasi S3 yang dipilih oleh Mas Aziz adalah “Peran Islam dalam Pembentukan Negara: Studi tentang proses pembentukan Negara di Madinah pada masa Muhammad SAW dan Kholifah Empat”.
Sebelum membaca ringkasan disertasi yang aslinya terdiri dari 500 halaman, saya sempat berkesimpulan dan menerjemahkan sedikit sinis karena melihat judul disertasi yang seolah dan seakan setuju atas formalisasi syar’at dalam bentuk Negara.
Sampai usai testimony dari Fachrie Aly (sahabat Mas Aziz) yang menerangkan cukup panjang soal alur pemikiran penulis disertasi ini yang disampaikan tanpa teks (ia butuh cuti 2 minggu hanya khusus untuk membaca dan mempelajari disertasinya) saya masih tetap berkesimpulan bahwa ternyata Mas Aziz setuju dan mendukung system Khilafah Islamiyah melalui disertasi yang ia buat.
Beruntung setelah Fachrie Aly memberikan testimony, gilliran sang promotor sekaligus anggota tim penguji Prof. Dr. HM Bambang Pranowo menjelaskan lebih luas dari perspektif dan motifasi dipilihnya judul disertasi ini.
Prof. Bambang Pranowo dalam testimoni-nya memberikan ulasan yang komprehensif atas disertasi Abdul Aziz. Diawali dengan sedikit guyon, secara simbolis Abdul Aziz memilih kampus UIN Sunan Kalijaga dalam mengambil pendidikan S3 padahal S1 nya ia selesaikan di kampus UIN Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah bermakna dan merupakan symbol Islam kekuasaan formal sementara Sunan Kalijaga bermakna Islam substansial . Terlepas dari kebenaran symbol kedua kampus tersebut, Prof Bambang Pranowo menegaskan bahwa pilihan disertasi Abdul Aziz merupakan tema yang langka atau jarang dipilih oleh para ilmuwan di negeri ini. Ia juga menarik benang lurus dan menghubungkan disertasi Abdul Aziz ini sejalan dengan sikap dan upaya penegakan Islam substantive yang telah diperjuangkan oleh almarhum Nurcholis Madjid dan Gus Dur serta beberapa tokoh lain. Dengan disertasi yang bagus dan ilmiah ini mestinya bisa dijdaikan bahan untuk berdiskusi atau berdebat ilmiah dengan beberapa organisasi yang dalam bahasa K. Hasyim sebagai Trans Nasionalis.
Lebih menarik lagi, Prof Bambang Pranowo juga mengangkat kilas balik latar belakang pemikiran para pendahulu bangsa di Negara kita yang meskipun Nasionalis namun tetap juga memperhatikan symbol keislamanya. Bung Karno yang saat itu menjadi Presiden RI menyampaikan gagasan dan pemikiranya kepada almarhum ayahanda Gus Dur selaku menteri agama saat itu untuk mengimbangi banyaknya gereja yang ada di Ibukota menurutnya perlu dibangun symbol tempat ibadah ummat muslim karena Indonesia adalah Negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Dari ide dan gagasan itulah maka dibangun masjid Istiqlah yang termegah di Asia tenggara dan menjadi monumental dan simolis. Bertemunya kedua tokoh Nasionali dan Agamis itu saling menguatkan dan meneguhkan tegaknya NKRI tanpa perlu pembentukan secara formal Negara Islam.
Prof. Bambang Pranowo sempat pula melemparkan statement tokoh NU KH Idham Kholid terkait soal Islam substantive dan simbolis yang cukup terkenal yaitu: “Mana yang lebih baik antara Minyak Samin cap Babi daripada Minyak Babi cap Unta?”. Lebih penting mana Islam substantive daripada Islam simbolis?
Di ahir sesi giliran KH Hasyim Muzadi memberikan testimoninya yang seperti biasa diwarnai dengan joke-joke yang cukup membuat hadirin banyak tertawa lepas namun juga memberikan banyak informasi terkait perkembangan gerakan Islam di berbagai penjuru dunia dan pengalama beliau bersinggungan dengan beberapa tokoh pergerakan tersebut.

Abstraksi disertasi
Disertasi ini merupakan kajian peran kontributif Islam dalam pembentukan Negara (state formation). Pengkajian difokuskan pada pengorganisasian masyarakat muslim Arab di masa Muhammad SAW dan Kholifah empat, yang oleh para pemikir muslim pada umumnya dipahami memiliki pola yang didasarkan pada interpretasi melalui pendekatan ideologis normative yakni melalui asumsi-asumsi keagamaan yang instan.
Kecenderungan para pemikir muslim tersebut diikuti pula oleh para tokoh gerakan dan organisasi kaum muslim masa kini di banyak tempat sehingga pemahaman mereka yang bercorak ideologis tentang formulasi pengorganisasian masyarakat muslim madinah sebagai Negara Islam telah menempatkan formulasi itu dalam posisi yang sacral yang mengandung konsekuensi hokum (keagamaan) tertentu jika tidak ditegakkan. Penempatan yang bersifat instan seperti ini mengandung bahaya terjerumusnya seseorang atau kelompok orang kedalam keyakinan keagamaan yang belum tentu sahih.
Formuliasi Negara Islam yang bersifat ideologis tersebut harus diuji kesahihanya melalui rekonstruksi atas peran kontributif Islam yang proporsional didalam proses pembentukan Negara oleh Muhammad SAW dan Kholifah empat. Reka ulang seperti ini akan membuka ruang bagi pengembangan pemahaman yang mendekati realitas historis sosiologis masyarakat muslim Arab pada waktu itu.
Kajian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat desriptif kualitatif. SIfat deskriptif kualitatif deterapkan sejak persiapan penelitan dan pengumpulan data hingga analisa data. Penelitian ini terfokus pada sejarah masa lalu, sehingga dalam analisa digunakan metode interpretasi yang bersifat historis sosiologis. Guna memahami gerjala sejarah yang dinamis dan berkesinambungan, interpretasi dilakukan dengan menggunakan pendekatan Sosilogi Proses yang dalam kepustakaan sosiologis disebut juga dengan Figurational Sociology.
Dalam penelitian ini menemukan bahwa dengan kehadiran Islam, msayarakat Arab di semenanjung Arabia yang semula tidak bernegara (stateless) dan hidup berdasarkan ikatan kekabilahan, mengalami perubahan fundamental dalam wujud terbentuknya suatu organisasi masyarakat baru yang disebut Ummah di Madinah. Ummah pada dasarnya bercorak religious daripada sebuah kekuasaan yang otoritatif. Akan tetapi dalam prosesnya kemudian, watak dasar ummah berubah pula menjadi pranata kekuasaan terpusat yang secara kategoris disebut ‘Chiefdom’ atau Pre-state (pra-negara).
Penelitian ini juga menemukan bahwa dalam proses perubahan watak Ummat tersebut terjadi perpaduan antara Islam dengan tradisi Arab warisan jahiliyah artinya baik Islam maupun tradisi Arab Jahiliyah member andil dalam proses munculnya Chiefdom Madinah (piagam madinah). Dengan demikian tidaklah tepat untuk memformulisakan seluruh praktik pengorganisasian Chiefdom Madinah dimasa Rosulullah dan Kholifah empat sebagai Negara Islam Madinah sebagai rujukan tekstual yang mengandung konsekuensi hokum tertentu. Praktik pengorganisasian kekuasan dimasa itu yang berisifat sementara, ad hoc menyerap banyak elemen social budaya khas semenanjung Arabia dan belum memperlihatkan bentuknya yang matang bukanlah sebuah tipe yang ideal (ideal type) yang dapat ditiru secara instra untuk diterapkan oleh siapa saja dan di lingkungan social mana saja. Chiefdom Madinah adalah jawaban Muhammad SAW dan Kholifah empat terhadap tantangan jaman mereka .

*) Mukhlisin, PJS Sekreraris PP Lakpesdam NU dan Sekretaris PRNU Binong Curug Tangerang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar