Senin, 29 Maret 2010

Serba serbi Mukatamar NU ke-32 (1)


Muktamar NU: Pesta Demokrasi Nahdliyyin atau Politisi?

Panasnya suhu udara kota Makassar semakin terasa menyengat dengan kehadiran ribuan utusan Muktamirin dari seluruh penjuru kota dan pelosok nusantara. ditambah pula
Berbagai cara dan upaya para muktamirin baik yang resmi sebagai utusan maupun sekedar sebagai penggembira mereka lakukan agar bisa mengikuti secara langsung hajat besar NU Ke 32 yang berlangsung selama hampir sepekan di Asrama Haji Sudiang Makassar dari tanggal 22-27 Maret 2010.

Kesan pertama meriahnya Muktamar kali ini sudah terlihat ketika tiba di bandara Sultan Hasanudin yang berjarak sekitar 4 (empat) kilometer ke lokasi asrama haji Sudiang dimana sepnjang sisi kiri dan kanan jalan menuju lokasi muktamar dihiasi dengan semaraknya baliho, spanduk, poster dan serta berbagai atribut layaknya kampanye pilpres atau pilkada yang sering kita saksikan.
Meski lokasi muktamar dilaksanakan jauh dari pulau jawa tapi hal itu tidak mengurangi antusias muktamirin untuk bisa hadir langsung dimana hampir seluruh cabang mengirimkan utusan lebih banyak dari jatah resmi 5 utusan per cabang dari panitia muktamar. Bahkan Kabupaten Malang saja mengirimkan utusan 40 orang muktamirin dan total peserta muktamar dari propinsi Jawa Timur mencapai kurang lebih 520 peserta dimana jumlah tersebut mendekati dan hampir sama dengan jumlah suara yang berhak memilih Ketua Tanfidziyah dan Rais Am dalam muktamar kali ini.

Penulis tiba di lokasi Muktamar malam hari sektiar pukul 23 WIT malam, sesaat setelah dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono di gedung Celebes Convention Center yang berjarak sekitar 20 km dari lokasi Muktamar. Dari teman-teman aktifis PP Lakpesdam yang ikut langsung dalam pembukaan banyak didapat cerita lucu dan seputar kejadian saat pembukaan. Salah satu kejadian lucu adalah ditolaknya beberapa pejabat tinggi Negara (menakertrans : Muhaimin Iskandar) dan Pengurus Pusat PBNU di arena pembukaan oleh Petugas Keamanan Paspampres. Sepanjang sejarah baru kali ini memang pengamanan super ketat terjadi di arena muktamar oleh protokoler paspampres.

Pengamanan yang terkesan berlebihan ternyata juga dilakukan oleh petugas keamanan penjaga pintu gerbang arena Muktamar yang dijaga ketat oleh pasukan Banser, dimana setiap orang yang hendak masuk ke dalam asrama haji harus memiliki kartu identitas muktamar dan tanpa kartu identitas itu siapapun dilarang masuk padahal sampai menjelang dini hari ke-2 Muktamar teman saya yang menjabat Sekretaris Komisi Rekomendasi bahkan Ketua Komisi Rekomendasi belum memperoleh kartu ID Panitia tersebut. Sebuah ironi besar dan cukup aneh terjadi karena kecerobohan panitia. Mks (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar