Sabtu, 24 April 2010

Maulid Akbar LDNU 1431H

Untuk yang kedua kalinya LDNU dibawah kepemimpinan KH. Nuril Huda menyelenggarakan hajat akbar di Masjid Istiqlal Minggu 18 April 2010 jam 08.00 s/d 11.30 wib yang dihadiri oleh 10.000 (sepuluh ribu) jamaah lebih. Alhamdulillah penulis bisa menghadiri dan ikut menikmati kedua acara akbar NU tersebut.

Dari kedua acara akbar tersebut memiliki banyak kesamaan dan kemiripan meskipun rentang waktu penyelenggaraanya berkisar 4 tahun. Diantara kesamaan itu antara lain dari sisi jumlah jamaah yang hadir meski yang pertama sedikit lebih banyak namun nuansa dan mayoritas yang hadir dalam kedua acara tersebut sangat terasa dan terlihat nuansa ke-NU-anya. Dari sisi penyelenggaraan kesamaan juga terlihat dari sponsor tunggal yakni ketua Tanfidziyah PWNU DKI - H. Fauzi Bowo hanya bedanya dulu ia belum menjabat gubernur DKI Jakarta.

Adapun perbedaan yang cukup kentara pada acara akba kali ini, penulis merasakan dan melihat sedikit keganjilan pada saat acara berlangsung. Hajat Akbar  LDNU yang diselenggarakan dalam rangka Maulid Nabi dan Doa untuk Guru Bangsa KH Abdurrahman Wahid serta syukuran Muktamar ke-32 NU ini diawali dengan pembacaan Maulid Barzanji dipimpin oleh Habib Syeikh  lengkap beserta rombongan hadroh/rebananya Jamaah Muji Rosul (JAMURO) dari Solo. Suara sang Habib yang merdu dan menyejukkan ditambah dengan teduh dan damaianya ruang utama masjid agung Istiqlah membuat betah hadirin yang ada di masjid tersebut bahkan jamaah yang baru hadir terus bertambah dan berdatangan sehingga membuat ruangan masjid makin terlihat penuh dan semarak yang dipenuhi oleh muslimin dan muslimat yang mayoritas berpakaian serba putih. Sampai penghujung pembacaan maulid barzanji acara masih berjalan seperti biasanya namun sesaat setelah Habib Syeikh menutup salam saat itu juga sang Habib beserta rombonganya meninggalkan masjid Istiqlal dan diikuti oleh sebagian jamaah yang jumlahnya lumayan banyak.

Keanehan yang penulis rasakan kembali terjadi ketika penceramah pertama Habib Lutfi bin Yahya Ketua Jamaah Ahli Thoriqoh Mu'tabaroh  An-Nahdiyyah (JATMAN) dari Pekalongan selesai menyampaikan ceramah dan mauidzoh hasanahnya sebagian jamaah kembali terlihat meninggalkan Istiqlah yang jumalahnya juga tidak sedikit dan itu terjadi bertepatan dengan dimulainya ceramah Maulid yang kedua oleh Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj sehinggga total yang bertahan hinggau usai acara ini tinggal sekitar dua pertiga. Dari bergelombangnya jamaah yang meniggalkan acara tersebut penulis merasakan adanya beberapa kelompok pengikut masing-masing ketiga tokoh utama pengisi acara Maulid Akbar tersebut meskipun penulis yakin semuanya Insya Allah masih NU atau minmal Ahlussunnah waljamaah yang moderat meskipun tetap saja terlihat kurang umum dan langka terjadi dalam even-even NU lain apalagi even akbar tingkat nasional ini.

Secara umum, acara doa bersama dan maulid akbar ini menurut penulis telah terselenggara dengan baik dan lancar indikasinya jumlah hadirin masih membludak mencapai belasan ribu orang. Hal ini terasa membanggakan bagi penulis karena ditengah gencarnya gerakan Islam trans nasional di ibu kota LDNU masih tetap mampu menghadirkan belasan ribu ummatnya.

Uraian hkmah maulid oleh Habib Lutfi yang lancar mengalir dan suaranya yang masih terdengar terang dan jelas bahkan terdengar suaranya lebih muda dari usianya membuat jamaah tak bergeming hingga usai ceramahnya. Ceramah kedua dilanjutkan oleh Ketua Tanfidziyah PBNU periode 2010 - 2015 yang baru saja terpilih Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj. Sebagaimana biasanya dan khasnya Kang Said, beliau dengan lancar dan cekatan silsilah Rosulullah, sahabat, tabiin, tabiit tabiin, ulama madzhab (syafi'i) sampai ke pendiri NU Syeikh Hasyim As'ari dan para ketua PBNU hingga dirinya. Selain itu Kang Said juga mengkritik kekeliruan beberapa penggunaan istilah bahasa arab terutama orang-orang NU seperti penggunaan kata hidmah yang sering digunakan oleh MC/protokol yang aslinya bermakna pelayanan/servis digunakan sebagai pengganti kata khusu'. Kekeliruan lain yang masih suka terjadi adalah penggunaan kata jamak dalam bahasa arab untuk nama seseorang yang mestinya tunggal seperti kata nama Abidin mestinya adalah cukup Abid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar