Rabu, 28 April 2010

Menggugat Ketidak adilan sejarah tentang Peran NU dalam Sejarah Kemerdekaan RI

Tulisan ini di ilhami oleh ceramah perdana terbuka Prof. Dr KH Said Aqil Siradj dihadapan jamaah belasan ribu Nahdiyyin  dalam acara Maulid Akbar Nasional LDNU dan Doa untuk Guru Bangsa Gus Dur yang bertempat di masjid Istiqlal Minggu, 18 April 2010.

Selain dengan fasih dan lancar bertutur tentang silsilah Nabi Muhammad SAW, Kang Said (panggilan KH Said Aqil Siradj) juga menguraikan dengan detail dan panjang lebar peran penting kesejarahan almaghfurlah Syeikh Hasyim As'ari disaat masa revolusi melawan penjajah dalam rangka mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hampir seluruh masyarakat dan warga negara Indonesia yang pernah belajar sejarah kemerdekaan Indonesia bisa dipastikan mengenal dan mengetahui peristiwa heroik 10 Nopember 1945 atau minimal mengetahui kalau tanggal tersebut merupakan hari bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia sehingga ditetapkannya 10 Nopember sebagai hari Pahlawan Nasional. Namun berapa banyak orang yang tau bahwa dibalik peristiwa bersejarah yang menelan korban ribuan warga negara Indonesia itu ada peran dan andil besar Hadrotussyeikh KH Hasyim As'ari yang mengeluarkan fatwa Resolusi Jihadnya?

Dengan lantang dan tegas Kang Said dalam ceramah itu mengajak seluruh Nahdiyyin untuk terus tidak berhenti melanjutkan semangat Jihad sesuai kontek dan kondisi saat ini. Kalau bukan kita siapa lagi yang harus mensosialisasikan dan meneruskan peran sejarah ormas NU dalam membela NKRI? demikian lanjut Kang Said setengah menggugat ketidak adilan sejarah atas peran besar NU.

Diakui oleh banyak pihak dan kalangan, bahwa peristiwa bersejarah 10 Nopember 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur, merupakan dampak dikeluarkannya keputusan "resolusi jihad" atau seruan perang yang
dicetuskan ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU).
 
Keputusan tersebut ditempuh setelah ulama-ulama dan konsul NU berkumpul di Surabaya untuk menyikapi situasi politik terkait dengan masuknya kembali penjajah ke Indonesia yang baru merdeka. Pertemuan yang berlangsung dari 21 Oktober tersebut memutuskan dua hal penting. Pertama bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 atas dasar Pancasila dan UUD 1945 adalah sah menurut `fikih` alias hukum Islam. Kedua, karena itu, umat Islam diwajibkan mengangkat senjata (jihad) untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. "Resolusi jihad yang dikeluarkan NU telah menginspirasi segenap anak bangsa untuk berjuang mengangkat senjata guna mengusir penjajah yang hendak masuk kembali ke Indonesia," tutur dia. Kontribusi NU terhadap peristiwa tersebut bukan hanya sebatas mengeluarkan resolusi jihad yang terbukti berhasil melecut semangat juang bangsa Indonesia, namun para ulama NU terjun secara langsung ke medan perang dengan memimpin perlawanan mengusir penjajah.

Entah kebetulan atau karena sebab lain, usai mengikuti Maulid Akbar LDNU di Istiqlal saya mengajak keluarga untuk mengunjungi obyek wisata Tugu Monas yang letaknya bersampingan dengan masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Saat melihat-lihat ruangan bawah tanah yang berisi Diorama Sejarah perjalanan Bangsa Indonesia di dalam Tugu Monas tersebut saya tiba-tiba teringat ceramah Kang Said yang soal peran NU dalam sejarah Kemerdekaan RI.  Dari setiap diorama yang ada di ruang bawah tanah tugu monas, tak terlihat satupun kami menemukan kata-kata Nahdlatul Ulama disana sementara ormas Islam lain yang juga saudara seperjuangan NU yakni Muhammadiyah terpajang disatu ruang diorama khusus. Dari fakta tersebut, dalam benak saya timbul pertanyaan "Mengapa peran besar Ulama NU tidak tercatat secara resmi dalam buku sejarah perjalanan Kemerdekaan RI?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar