Jumat, 28 Mei 2010

Mengapa Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) dan mengapa bermadzhab?


Ahlussunah waljamaah terdiri dari tiga suku kata: yaitu ahl (أهل) , as-sunah(السنة) dan al-jama’ah(الجماعة) yang merupakan satu kesatuan yang berarti orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berlandaskan atas dasar moderat, seimbang dan toleran.

Landasan hukum Aswaja adalah hadist nabi:

إِنَّ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً, كُلُّهُمْ فىِ النَّارِ إِلأَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى (رواه الترمذى).
“Sesungguhnya Bani Israil pecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan pecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan, mereka bertanya: siapakah yang satu golongan itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab; mereka itu yang bersama aku dan shahabat-shahabatku”.

Imam Turmudzi, Abu Dawud dan Ibn Majah, masing-masing dalam kitab Sunan-nya meriwayatkan hadits tentang penggolongan umat Islam menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan atau firqoh, dan hanya satu golongan di antaranya yang selamat dari ancaman siksa neraka, yaitu golongan yang konsisten pada ajaran Nabi Muhammad S.A.W. dan para Sahabatnya (Jama’ah) atau yang kemudian diklaim dengan sebutan Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurut Imam Abdul Qahir al-Baghdadi (w. 429 H/1037 M) sebagaimana disebut dalam karya monumentalnya, al-Farq bainal-Firaq, hadits tersebut diriwayatkan dari beberapa sumber sanad, antara lain; Anas bin Malik, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin ‘Amr, Abu Umamah dan Watsilah bin al-Asqa.

Mengapa bermadzhab, apa dasar hukumnya?

Kaum Ahussunnah waljamaah di lingkungan NU menggunakan kelengkapan (alat) dalam istinbath al-ahkam termasuk ushul al-fiqh, qawa’id al-fiqh dan hikmat al-tasyri’ dalam merumuskan keputusan hukum agama yang termaktub dalam perumusan al-usus al-thalatshah fi’tiqadi ahlissunnah waljama’ah (bertauhid mengikuti Imam Asy’ari dan Al-Maturidi, berfiqih mengikuti salah satu madzhab empat dan berakhlak sesuai dengan perumusan Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghozali) .
Landasan hukum NU dalam bermadzhab adalah firman Allah:

فَسْأَلُوْا أَهْلَ الذِكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ (النحل 16 : 43).
“Bertanyalah kamu sekalian kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.

Dalam teori legal Islam (ushul al-fiqh) terdapat kaidah مالايتم الوجب الا به فهو وجب “Apa yang sebuah kewajiban tidak akan terlaksana dengan sempurna tanpa kehadirannya, Maka hal itu pun menjadi wajib.” karena kita tidak mengetahui samudra syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tidak mengenal hukum ibadah kecuali dengan menelusuri fatwa yang ada pada imam-imam muhaddits terdahulu, maka bermadzhab menjadi wajib.

Dalam praktik amaliah keagamaan sehari-hari berkaitan dengan madzhab, kaum nahdiyyin sering mendapat pertanyaan yang setengah mencibir dan merendahkan seperti pertanyaan “Mengapa NU mengambil dasar hukum Islam tidak langsung dari Al-Quran dan Hadist?” dan “Mengapa ulama NU rujukannya kitab kuning?”.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita tidak perlu emosi karena bisa jadi orang yang suka menggunakan idiom kembali ke Quran dan Hadist yang murni, mungkin mereka lupa atau tidak tahu akan betapa berat dan banyaknya syarat kemampuan seseorang dalam berijtihad.

Jika boleh kita ibaratkan Al-Quran dan Hadist dengan air suci dan bersih yang jumlahnya sangat banyak untuk dapat meminumnya tentu kita butuh wadah atau tempat yang sesuai dengan kebutuhan dan ukuran kita misalnya gelas atau cangkir.
Wadah atau perantara itu adalah para Imam Madzhab yang hidup lebih dekat dengan jaman Rasulullah dan sahabat nabi.

Ulama NU berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran al-Qur'an dan Hadist tanpa menguasau alat (ilmu penunjang) dan tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab. Untuk menafsirkan al-Qur'an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pengulangan saja dari proses pengambilan hukum yang telah dilakukan oleh Ulama salafus sholih.

Mengenai pandangan sinis kelompok diluar Nahdiyyin terhadap kitab kuning, kita cukup menjawabnya dengan sebuah pertanyaan. “Coba tunjukkan satu contoh saja dalil atau kandungan kitab kuning yang bertentangan dengan Quran atau hadist?”.

Justru kita menjadi timbul pertanyaan atas orang-orang yang mengaku tidak bermadzhab.
Karena dalam kenyataan sekarang, banyak sekali orang Islam yang awam bahkan tidak sedikit yang tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik apalagi memahaminya. Lantas bagaimana dengan tata cara amaliah ibadah mereka yang awam sementara mereka bilang anti/tidak ber madzhab? Dari mana mereka memperolah ilmu tata cara berwudlu dan solat mereka, apakah dari Quran langsung?


* Oleh Mukhlisin –Sekretaris NU Ranting Binong, disampaikan dalam ta’lim bulanan LDNU Ranting Binong Mei 2008. Sumber rujukan dan referensi: Ahlussunnah waljamaah menjawab persoalan tradisi dan kekinian - LDNU 2007, Tradis orang-orang NU - KH. Munawir Abdul Fattah Pustaka Pesantren 2007, Risalah NU No.3 tahun I, Ahlussunnah Wal jamaah dalam lintas sejarah - Prof. Dr. KH. Said Agiel Siradj 1996.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar