Jumat, 18 Juni 2010

Maukah kita jika nanti imam tahlil dipimpin oleh kader partai yang munafik?

Sekelompok elit partai yang mengaku jujur dan bersih, kini telah menunjukkan sikap pragmatismenya. Mereka rela merubah dan memutar balik ideologi partainya hanya sekedar ingin menaikkan perolehan suara partainya di pemilu yang akan datang.

Salah satu strateginya, kader-kader partai tersebut akan serius menggarap warga NU dan Muhammadiyah untuk mencoba mereka 'bohongi' agar bisa masuk dan memberikan suaranya untuk partai tersebut. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti kader partai itu akan berubah total untuk aktif dan mengambil alih peran-peran tokoh agama yang selama ini tekun aktif setra ikhlas dalam menjalankan ritual agama dan keyakinannya ditengah masarakat. Setelah sepuluh tahun terahir mereka telah berhasil membuat ketegangan dengan ormas NU dan Muhammadiyah melalui perebutan masjid dan kadernya, bukan tidak mungkin dan akan menjadi sangat mungkin kalau kedepan mereka akan dengan berani dan tanpa malu untuk aktif ikut bahkan bisa jadi menyerobot jadi imam dalam forum-forum tahlil dan yasinan yang selama ini kita ketahui bersama bahwa menurut mereka amalan tersebut adalah bid'ah.

MUNAS PKS
PKS Akan Serius Ambil Suara NU-Muhammadiyah
Kamis, 17 Juni 2010 16:14
Jakarta, NU Online
PKS tak ragu-ragu untuk masuk tiga besar dalam Pemilu 2014 mendatang. Salah satunya strateginya, PKS akan menggarap kantung suara NU dan Muhammadiyah.

Hal itu ditegaskan Sekjen DPP PKS Anis Matta dalam bincang santai di lokasi Munas II PKS, Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Menurut Anis, PKS akan membentuk lembaga baru yakni Bidang Pembinaan Umat yang akan serius menggarap suara NU dan Muhammadiyah.

Ia mengatakan, lembaga baru tersebut tidak terlepas dari ketegangan yang selama ini muncul antara PKS dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah. "Bidang ini bentuk refleksi atas ketegangan selama ini antara PKS dengan NU dan Muhammadiyah," ujarnya seperti dilansir inilah.com.

Lebih lanjut Anis menyebutkan, bidang itu akan mengurus keumatan seperti sekolah, pesantren, dan melakukan sinergi dengan ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. "Bagaimana PKS bisa bekerjasama dengan Muhammadiyah dan NU," ujarnya. Rencananya, di bidang ini bakal diisi oleh Ahmad Zainudin yang juga anggota FPKS di Komisi X.

Dalam kurun 10 tahun terakhir ini, memang terjadi ketegangan antara PKS dengan sejumlah ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Pokok masalahnya soal perebutan masjid antara kader PKS dengan NU maupun Muhammadiyah. Ketegangan ini pun cukup ditanggapi serius dengan reaksi dari pimpinan ormas Islam baik NU maupun Muhammadiyah.

Perebutan masjid tersebut tidak sekadar 'akuisisi' masjid oleh sejumlah kader PKS. Lebih dari itu, ketegangan yang lain juga bermuara dari praktik keagamaan. Seperti praktik tahlilan, maulid nabi Muhammad, yasinan, dibaiyyah yang kerap menjadi sumber persoalan antar PKS dengan sejumlah warga ormas Islam. Meski dalam perkembangannya, PKS juga turut serta dalam praktik-praktik keagamaan yang kerap dilakukan oleh muslim tradisional. (mad)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar