Selasa, 14 Juni 2011

Soeharto Bingung Soal Tahlilan "Apa benar kita tidak boleh membaca tahlil untuk jenazah?"

Selasa, 14 Juni 2011, 06:05 WIB
Bayu Galih
VIVAnews - Di kalangan umat Islam, terdapat perbedaan pandangan mengenai tahlilan untuk orang yang baru meninggal. Ada yang menganggap tahlilan bukan sebagai tradisi Islam bahkan cenderung dianggap sebagai bid'ah atau penyimpangan ajaran Islam. Banyak pula yang menganggap tahlilan tidak menyimpang dari ajaran.

Kebingungan akibat perbedaan pandangan soal tahlilan ini juga dialami oleh mantan presiden Soeharto. Seperti dituturkan Muhammad Maftuh Basyuni dalam buku Pak Harto, The Untold Stories, di malam pertama setelah tahlilan dan doa untuk almarhumah Ibu Tien Soeharto di Dalem Kalitan, Solo, Soeharto menanyakan soal tahlilan.

"Apa benar kita tidak boleh membaca tahlil untuk jenazah?" tanya Soeharto kepada Maftuh Basyuni, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.

Maftuh saat itu menjawab, ada pendapat yang mengatakan membaca tahlil atau Al Quran kepada orang yang telah meninggal tak ada gunanya. "Mereka berpedoman kepada hadits nabi yang menyatakan bahwa seseorang yang telah meninggal telah putus amalnya, kecuali tiga hal, yaitu amal jariah, ilmu bermanfaat yang ditinggalkan, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya," jelas Maftuh.

Maftuh kemudian melanjutkan, ada yang menganggap membaca doa dan ayat Al Quran kepada orang yang meninggal sesuai sunnah Nabi. Karena Nabi dalam doanya juga menyebutkan. "Ya Allah ampunilah kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah mati".

Mendengar penjelasan Maftuh, Soeharto seakan tidak puas, dan kemudian kembali bertanya. "Kalau memberi makan kepada yang mendoakan?" tanya Soeharto.

Maftuh kemudian menjelaskan alasan tentang anggapan tidak boleh. "Orang yang kesripahan (sedang berkabung) itu sudahlah susah dan sedih, kok masih dibebani lagi," jelas Maftuh.

Kemudian, Maftuh menjelaskan alasan yang membolehkan, yaitu ada hadits yang mewajibkan umat Islam untuk menghormati tamu. "Penghormatan kepada tamu biasanya dalam bentuk minum dan makan," jelas Menteri Agama di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Masih belum puas dengan jawaban Maftuh, Soeharto kemudian bertanya, pendapat apa yang dipilih Maftuh. Maftuh menjawab memilih yang membolehkan tahlilan dan memberi makan.

"Soal pahala itu hak prerogatif Tuhan. Kita membaca Tahlil dengan tentunya berharap ada pahala buat yang sudah meninggal, kalau tidak ada pahala pun, ya tidak apa. Adapun memberi makan, tentu sebatas kemampuan yang bersangkutan. Apalagi kalau yang kesripahan (berkabung) itu Presiden, tentu makanan datang sendiri," jawab Maftuh.

Mendengar jawaban itu, Soeharto pun tertawa lirih. Sembari mendorong dahi Maftuh dengan lembut seperti orang tua kepada anak, Soeharto pun berkata. "(Dasar) kamu."

Seperti apapun keislaman Soeharto, hubungan Soeharto dengan umat Islam cenderung naik-turun. Bagi kalangan fundamentalis Islam, Soeharto dianggap musuh karena 'memaksakan' Pancasila sebagai asas tunggal. Oleh kalangan fundamentalis, ini dianggap sikap syirik atau penyembahan sesuatu selain Tuhan.

Penolakan dan perlawanan terhadap asas tunggal Pancasila pun terus dilakukan terhadap Soeharto. Sejumlah tokoh yang menentang keras pun bahkan sampai melarikan diri ke Malaysia karena 'diburu' oleh pemerintahan Soeharto, antara lain Abu Bakar Ba'asyir dan Abdullah Sungkar.

Bahkan, penolakan asas tunggal berujung pada pelanggaran Hak Asasi Manusia, yang terkenal dengan sebutan Peristiwa Tanjung Priok Berdarah 1984. Dikabarkan ratusan orang tewas saat militer menangani peristiwa Tanjung Priok, 12 September 1984. Namun, versi pemerintah yang dibacakan Panglima ABRI LB Moerdani menyebutkan korban tewas hanya 18 orang dan luka-luka sebanyak 53 orang.

Akibat peristiwa ini, keluarga korban Tanjung Priok pun masih belum bisa memaafkan Presiden Soeharto. Tak heran, korban Tanjung Priok pula yang menentang saat Soeharto diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar