Sabtu, 16 Juli 2011

Materi Buletin NU MWC Curug edisi khusus untuk peserta rombongan Harlah NU ke 85




by Mukhlisin Akhlis on Saturday, July 16, 2011 at 9:52pm

Apa itu Nahdlatul Ulama(NU)? Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan (jam'iyah diniyah islamiah) yang berhaluan Ahli Sunnah wal-Jamaah (Aswaja). Organisasi ini didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1334 H) oleh K.H. Hasyim Asy'ari beserta para tokoh ulama tradisional dan usahawan di Jawa Timur.



Mengapa Perlu Berorganisasi NU? Banyak diantara kita umat Islam Indonesia sudah mengamalkan berbagai tradisi keagamaan yang identik dengan jamaah Nahdliyin (warga NU). Sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan ibu kita aktif menjalankan tahlilan, solawatan, maulidan, barzanji dan sebagainya sampai ketika dikuburkan dengan talqin. Tapi itu baru secara kultural dalam tradisi keagamannya, dalam ber-habllun minallah. Sementara secara struktural atau organisasi banyak yang kurang berminat dan memahami perlunya berorganisasi NU. Padahal NU adalah tempat dimana kita Nahdliyin melakukan amal shalih secara berjamaah.



Sabda Nabi: ’Alaikum bil jamaah' (Hendaklah kalian selalu berjamaah), perintah ini tidak hanya untuk shalat jamaah di masjid fisikal, tapi untuk amal saleh dalam kehidupan sehari-hari diluar solat salah satunya melalui organisasi.

Beroraganisasi atau berjamaah itu mutlak penting karena tidak mungkin manusia hidup tanpa kebersamaan dengan orang lain. Ada tiga trilogi kebersamaan. Pertama manusia tidak mungkin lahir di dunia jika tidak dari sesama jenis manusia. Tidak ada mansuia lahir dari kambing atau monyet. Kedua, untuk bisa tumbuh menjadi manusia, anda harus bersama manusia lain. Meski terlahir sebagai manusia, tapi jika sehari-hari hidup hanya dengan orang utan, meskipun secara fisik tetap manusia tapi jiwanya orang utan. Manusia itu anak lingkungannya. Hidup sama orang jahat bisa terbawa jahat, sama orang-orang baik bisa terbawa menjadi baik. Ketiga, kalau anda ingin menjadi manusia mulia dan terpuji, anda musti hidup untuk mansuia lain. Semakin besar amal dan kiprah anda untuk sesama, semakin mulia dan terpujilah anda sebagai manusia. Organsiasi adalah sebaik-baik ruang dimana anda bisa hidup bersama dan berbuat untuk orang lain.

Begitu banyak kelompok kecil bisa mengalahkan kekuatan kelompok besar karena izin Allah, yakni karena mereka bersatu atau berjamaah. Rasulullah SAW juga senada: Yadullah fauqal jamaah (Kekuatan Allah SWT yang pasti luar biasa hanya dianugerahkan kepada mereka yang ikhlas berjamaah).



Apa Ciri Khas NU? Ciri khas NU, yang membuatnya berbeda dengan organisasi sejenis lainnya adalah ajaran keagamaan NU tidak membunuh tradisi masyarakat, bahkan tetap memeliharanya, yang dalam bentuknya yang sekarang merupakan asimilasi antara ajaran Islam dan budaya setempat.

Ciri khas yang lain yang juga lebih unik, bagi warga nahdliyyin, Ulama merupakan maqam tertinggi karena diyakini sebagai waratsatul anbiya'. Ulama tidak saja sebagai panutan bagi masyarakat dalam hal kehidupan keagamaan, tetapi juga diikuti tindak tanduk keduniannya. Untuk sampai ke tingkat itu, selain menguasai kitab-kitab salaf, Alquran dan hadis, harus ada pengakuan dari masyarakat secara luas. Ulama dengan kedudukan seperti itu (waratsatul anbiya') dipandang bisa mendatangkan barakah. Kedudukan yang demikian tingginya ditandai dengan kepatuhan dan penghormatan anggota masyarakat kepada para kiai NU.

Ciri khas berikutnya adalah Persaudaraan (ukhuwah) di kalangan nahdliyyin sangat menonjol. Catatan sejarah menunjukkan bahwa dengan nilai persaudaraan itu, NU ikut secara aktif dalam membangun visi kebangsaan Indonesia yang berkarakter keindonesiaan. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan NU bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah bentuk final dari perjuangan kebangsaan masyarakat Indonesia. Komitmen yang selalu dikembangkan adalah komitmen kebangsaan yang religius dan berbasis Islam yang inklusif. Secara umum ciri-ciri orang atau organisasi NU dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Tasamuh; Sikap toleran terhadap perbedaan baik dalam masalah keagamaan terutama hal-hal yang bersifat furu’ (bukan prinsip/pokok) atau masalah khilafiyah serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. 2. Tawazun; Sikap seimbang dalam berkhidmah dan muamalah baik yang berhubungan antara mahluk dan Sang Khaliq maupun hubungan sesama manusia dan terhadap lingkungan alam hidupnya menyelaraskan kepentingan masa lalu masa kini dan masa yang akan datang.-3. Amar makruh nahi munkar; Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai nilai kehidupan.

Apa dasar dan faham keagamaan NU? Dasar faham Keagamaan Nahdlatul Ulama adalah : Al-Quran, Assunah, Al-Ijma, Al-Qiyas Dalam memahami dan menafsirkan Islam dari sumber-sumbernya tersebut diatas, NU mengikuti faham Ahlussunnah Waljamaah dan menggunakan jalan pendekatan (madzhab) yang meliputi Bidang Aqidah : Imam Abu Hasan Al As’ari dan Abu Mansur Al Maturidi, Bidang Fiqih : Abu Hanfiah Annu’man, Malik Bin Anas, Muhammad bin Idris Assyafi’I, Ahmad bin Hambal, Bidang Tasawuf : Al Junaidi Al Bagdadi dan Al Gazhali.



Mengapa NU bermadzhab? Jika boleh kita ibaratkan Al-Quran dan Hadist dengan air suci dan bersih yang jumlahnya sangat banyak untuk dapat meminumnya tentu kita butuh wadah atau tempat yang sesuai dengan kebutuhan dan ukuran kita misalnya gelas atau cangkir.

Wadah atau perantara itu adalah para Imam Madzhab yang hidup lebih dekat dengan jaman Rasulullah dan sahabat nabi. Ulama NU berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran al-Qur'an dan Hadist tanpa menguasai alat (ilmu penunjang) dan tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab. Untuk menafsirkan al-Qur'an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pengulangan saja dari proses pengambilan hukum yang telah dilakukan oleh Ulama salafus sholih.

Landasan hukum NU dalam bermadzhab adalah firman Allah:

فَسْأَلُوْا أَهْلَ الذِكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ (النحل 16 : 43).

“Bertanyalah kamu sekalian kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.



Dalam teori legal Islam (ushul al-fiqh) terdapat kaidah

مالايتم الوجب الا به فهو وجب “Apa yang sebuah kewajiban tidak akan terlaksana dengan sempurna tanpa kehadirannya, Maka hal itu pun menjadi wajib.” karena kita tidak mengetahui samudra syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tidak mengenal hukum ibadah kecuali dengan menelusuri fatwa yang ada pada imam-imam

Apa tujuan NU? Tujuan organisasi NU adalah menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah Wal Jama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tujuan organisasi NU meliputi antara lain:

1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.

2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.

3. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.

4. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.



Dari beberapa uraian dan jawaban atas beberapa pertanyaan mendasar tersebut diatas mudah-mudahan bisa menjadi pembuka dan menambah wawasan serta keteguhan hati kita akan betapa pentingnya kita berjamaah/berorganisasi dan bersatu dalam mengamalkan dan menjalankan semua keyakinan aqidah kita baik yang terkait soal ubudiyah ataupun tradisi dan ritual keagamaan kita (hablum minallah) maupun dalam urusan kita bersosialisasi dan beramal baik terhadap sesama manusia (hablum minannas).

Diterbitkan oleh : Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Curug Kab. Tangerang. Penanggung jawab: Ust. H. Ahmad Yani (H. Embong), Ust. Wahyudin Rais, SPdi (Rais Syuriyah), Ust. Hafid Gunawan, SPdi (Katib Syuriyah) H. Mahfud Badrun (Ketua Tanfidziyah). Pemimpin Redaksi: Mukhlisin (Humas MWC NU Curug), Redaktur : Ust. Rokhmat Alam, SPdi (Wakil Ketua Tanfiziyah MWC NU Curug).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar